Sejarah & Budaya

Penghormatan dan Peneguhan Silsilah Leluhur Banten, Cirebon dan Pajajaran Karadenan Kaum

dokumentasi : Musium Keris, Tengah R.H Dadang, Kiri R.Luki Nurmansyah, Kanan Muhammad Razib Fauzi

Bogor | Labraknews.com- Masjid Al-Atiqiyah merupakan sebuah masjid bersejarah yang menjadi saksi perjalanan spiritual masyarakat Karadenan Cibinong. Selepas shalat maghrib, Muhammad Razib Fauzi melakukan ziarah ke makam Mbah Raden Syafi’i di Karadenan Kaum, (senin, 29/09/2025).

Usai menunaikan ziarah, beliau melanjutkan kunjungan ke kediaman R.H. Dadang. Dalam perjumpaan yang penuh makna tersebut, R.H. Dadang tengah menuliskan dan meneliti kembali silsilah keluarga.

Beliau pun menjelaskan bahwa garis keturunan Mbah Raden Syafi’i berakar dari jalur ayah yang masih bersambung dengan Kesultanan Banten.

Hal ini bukan sekadar kisah tutur, melainkan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun kultural, sebab bersumber dari manuskrip kuno Silsilah Karadenan. Manuskrip tersebut ditulis dengan aksara Arab Melayu di atas kertas yang kini telah menua dan rapuh dimakan zaman.

Dokumentasi; Tulisan kuno silsilah karadenan dengan aksara arab melayu.

Keotentikan silsilah ini semakin diperkuat dengan referensi dari buku Silsilah Jatinegara Kaum serta catatan yang tersimpan di Sukaraja Kaum.

Dari penelusuran tersebut dapat ditegaskan bahwa Banten, Cirebon, dan Pajajaran bukanlah entitas yang terpisah, melainkan masih berada dalam satu rumpun keturunan.

Sebuah simpul sejarah dan budaya yang merekatkan masa lalu dengan masa kini, serta menjadi pengingat bahwa jati diri kita senantiasa berpijak pada akar leluhur yang agung.

Dalam kesempatan tersebut, R.H. Dadang menuturkan, “Maksud dan tujuan saya menuliskan silsilah keluarga ini tidak lain agar obor sejarah tidak padam, agar anak-cucu kita tidak kehilangan arah.

Karadenan Kaum yang dahulu dikenal sebagai Kawung Pandak, memiliki jati diri dan sejarah yang agung. Di sinilah jejak masuknya Islam di Karadenan Cibinong melalui Mbah Raden Syafi’i. Masjidnya masih berdiri, budayanya tetap hidup, dan makam leluhurnya senantiasa terjaga dari masa ke masa. InsyaAllah semua ini dapat dipertanggungjawabkan.

Bahkan, kami telah menggagas pendirian Museum Keris sebagai ikhtiar untuk melestarikan salah satu warisan budaya yang tumbuh dan hidup di Karadenan.”

Dengan demikian, kegiatan ziarah dan peneguhan silsilah ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu, tetapi juga upaya melestarikan nilai sejarah, spiritualitas, dan budaya yang diwariskan turun-temurun. *razib

Bagikan: